Senin, 20 Juli 2009

Kompas - Bali Bukan California



Minggu, 19 Juli 2009 | 03:32 WIB
Budi Suwarna
”More! More! More!” Teriak puluhan penonton meminta Superman Is Dead (SID) menyanyikan lagi beberapa lagu. Ini bukan terjadi di konser SID di Indonesia, melainkan di arena Warped Tour 2009 di Time Warner Cable Amphitheatre di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat.

Sayang SID tidak bisa memenuhi permintaan mereka karena jatah manggungnya selama 20 menit sudah berakhir. Sambil turun panggung, vokalis SID, Bobby Kool, berteriak, ”Kamu bisa mendengarkan CD album kami.”

Sebagian penonton pun mendatangi personel SID di belakang panggung, berbincang, kemudian membeli CD album SID. Mereka juga meminta tanda tangan dan foto bersama SID.

Selain di Cleveland, kata Eka Rock, SID juga mendapat sambutan meriah di Indianapolis dan Las Cruces. Di Las Cruces, SID bahkan bisa memancing penonton untuk moshing atau saling mendorong dan saling mengempaskan tubuh di tengah massa ketika SID main.

Di kota-kota lain, penampilan SID umumnya hanya ditonton rata-rata 30 orang. Itu masih bagus. Banyak band lain yang hanya ditonton sekitar 10 orang.

Di ajang ini, band yang belum punya nama memang harus bersaing langsung dengan band tenar, seperti Bad Religion, NOFX, Anti Flag, dan A Day to Remember, merebut penonton. Di Pittsburgh, misalnya, SID harus bermain pada waktu yang hampir bersamaan dengan NOFX dan Anti Flag. Panggung mereka pun hanya berjarak masing-masing 30-an meter. Bisa ditebak, penonton lebih melirik NOFX dan Anti Flag.

Agar ditonton banyak orang, personel band yang belum punya nama harus promosi keliling arena Warped Tour sambil membawa papan bertuliskan nama bandnya dan jadwal manggung hari itu. Ada pula yang mengecat nama band mereka di aspal di lokasi-lokasi strategis atau membagi selebaran.

Personel SID berusaha memikat perhatian dengan berputar-putar arena Warped Tour mengenakan kain kotak-kotak dan penutup kepala khas Bali. Di tengah kerumunan massa, mereka berteriak, ”We are from Bali, Indonesia.”

Hasilnya? Mereka menemukan beberapa orang yang sudah tahu SID dari situs Myspace. Sebaliknya, mereka pun menemukan beberapa orang yang jangankan tahu SID, tahu Bali dan Indonesia saja tidak. Di California, misalnya, seorang pengunjung Warped Tour bertanya, ”Apakah Anda orang Meksiko?”

”Bukan. Kami dari Bali.”
”Oh, Bali (dia melafalkannya ballay). Apakah itu suatu tempat di California?”

(Gubrak!!!)

Pada akhirnya, para personel SID harus menjadi ”duta bangsa” yang tidak hanya menjelaskan musiknya, melainkan juga letak Indonesia di peta dunia. Kemudian, SID memberikan gambaran bahwa Bali itu Pulau Dewata yang indah-permai, gemah ripah loh jinawi. Untungnya, mereka tidak banyak bertanya soal teror bom di Indonesia.

Hemat

Bagaimana SID bisa bermain di festival punk terbesar di dunia ini? Jerinx, drumer SID, mengatakan, mereka direkomendasikan NOFX yang mereka kenal ketika band itu konser di Bali tahun 2007. Saat itu, SID menjadi band pembuka konser NOFX.

Apa makna tur ini bagi SID? Jerinx mengatakan, tur ini memberi pengalaman yang sangat berarti. ”Kami sekarang tahu bagaimana cara bersaing dengan band-band lain, bagaimana cara tampil di festival sebesar Warped,” ujarnya.

Di ajang Warped Tour kali ini, SID menjadi satu-satunya band dari Asia. Dalam sejarah Warped Tour yang dimulai tahun 1994, selain SID, baru ada dua band asal China dan Jepang yang bisa tampil di sini.

SID tampil di 11 dari 47 kota di AS dan Kanada. Penampilan perdana mereka dimulai di beberapa kota di California yang berada di pantai barat AS. Mereka kemudian bergerak ke Arizona di selatan, New Mexico di tengah, Texas, Indianapolis, terus bergerak ke pantai timur ke Ohio dan Pennsylvania. Dengan demikian, perjalanan SID bisa dikatakan membelah AS dari pantai barat ke timur yang kalau menggunakan pesawat bisa berjam-jam.

Tapi, SID tidak menggunakan pesawat. Mereka memakai mobil van sewaan yang disesaki tujuh penumpang ditambah peralatan band dan tas-tas besar. Perjalanan ini memang jauh dari mewah. Modal untuk tur di AS yang diperoleh SID dari sponsor, menurut Bobby, tidak lebih dari Rp 250 juta. Sementara honor setiap tampil di Warped Tour hanya 250 dollar AS dipotong pajak 30 persen.

Uang itu harus dicukup-cukupkan untuk menutup semua pengeluaran SID selama mengikuti Warped Tour dari 26 Juni-9 Juli yang dilanjutkan dengan konser From Bali With Rock di enam kota di AS hingga akhir Juli nanti.

Karena itu, mereka benar-benar hemat. Mereka, misalnya, hanya menyewa satu kamar hotel untuk tujuh orang. ”Pokoknya gila deh,” kata Boby, Jumat (10/7), ketika berbincang-bincang di Washington DC.

Bebas

Di Indonesia, nama SID kini sedang melambung tinggi. Lagunya, ”Jika Kami Bersama”, belakangan ini sering diputar di layar televisi dan radio. Namun, jauh sebelum lagu itu keluar, SID yang dibentuk tahun 1995 telah malang melintang di sejumlah gig atau panggung indie. Mereka juga sempat merilis tiga album indie tahun 1997, 1999, dan 2002.

Tahun 2003, SID bergabung dengan label Sony Music Indonesia dan menelurkan album Kuta Rock City. Lewat dua lagu andalan, ”Kuta Rock City” dan ”Punk Hari Ini”, mereka langsung disejajarkan dengan grup-grup rock mapan Indonesia. Masih bersama Sony, tahun 2004, 2006, dan 2009 SID berturut-turut merilis album The Hangover Decade, Blackmarket Love, dan Angles and The Outsiders.

Bersamaan dengan itu, komunitas penggemar SID, Outsiders, pun terbentuk di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Bandung, Bali, dan Jakarta.

Meski bergabung dengan label utama, SID tidak banyak berubah. Musik mereka tetap garang dan lirik lagunya masih menyuarakan kepentingan kaum marjinal, mengecam kesewenang-wenangan politik, dan kemarahan alam. Buat SID, lanjut Jerinx, musisi harus memiliki keberpihakan pada yang lemah.

Citra SID sebagai band yang garang, kasar, dan berandalan juga tetap melekat meski sebenarnya para personel SID dalam keseharian ternyata amat santun dan gaya hidupnya sangat biasa. Eka yang asli Negara, Bali, dan bernama asli I Made Eka Arsana (34), rajin minum susu; Jerinx atau I Gede Ari Astina (32) berusaha menjadi vegetarian; Bobby atau I Made Putra Budi Sartika (32) jarang merokok.

Minggu, 19 Juli 2009

Kompas - Festival Punk Minus Pesan


Minggu, 19 Juli 2009 | 03:35 WIB
Budi Suwarna
Ribuan orang—sebagian berpenampilan ”nyeleneh”—berkumpul di padang rumput luas di Pittsburgh, Amerika Serikat. Sambil menenggak minuman, mereka hanyut dalam musik bising yang disajikan puluhan band punk, termasuk Superman Is Dead dari Indonesia. Inilah salah satu rangkaian tur festival punk yang diklaim terbesar di dunia.


Festival itu resminya bernama Vans Warped Tour 2009. Tahun ini, festival tersebut diadakan maraton di 47 kota di AS dan Kanada sejak 2 April hingga 28 Agustus nanti. Kami sempat menyaksikan dua rangkaian Warped Tour yang digelar di Pittsburgh, Rabu (8/7), dan di Cleveland, Kamis (9/7).

Suasana yang tertangkap nyaris sama. Di Post Gazette, Pittsburgh, tempat festival berlangsung, anak-anak muda datang dengan dandanan yang tidak lumrah untuk ukuran umum. Gadis-gadis remaja memakai tank top dengan celana super pendek bertuliskan ”Girls Don’t Poop” tepat di bagian (maaf) bokongnya. Rambutnya dicat merah, biru, hijau, atau kuning. Bibir dan daun telinganya ditindik.

Sebagian remaja laki-laki tampil dengan gaya khas anak punk. Rambut mohawk, tato, celana kulit dengan gesper logam dan rantai berjuntai-juntai, serta peniti yang ditancapkan di dada atau bibir.

Penampilan nyeleneh, serba beda, dan provokatif seperti itu memang menjadi bagian dari kultur punk. Itu adalah sebuah tanda pemberontakan terhadap nilai-nilai dominan. Sebuah subversi atas sistem ketertiban. Sinyal pemberontakan lainnya tampil dalam bentuk musik yang bising, penuh emosi, dan lirik yang cenderung subversif.

Tengoklah penampilan Jeffree Star, penyanyi asal AS, di Smartpunk Stage, yang seperti menjungkirbalikkan batas-batas gender. Penyanyi gay yang juga model dan perancang ini mengecat rambutnya dengan warna terang dan berdandan medok. Dia mengenakan stoking jaring-jaring, rok di atas dengkul, dan baju ketat. Gerakannya amat gemulai, tetapi suaranya menggelegar diiringi musik hibrid elektronik-hip hop-disko yang mengentak dan bising.

Dia juga menyertakan dua penari latar. Seorang laki-laki amat gemulai dan seorang perempuan yang tubuhnya amat montok dengan gerakan patah-patah dan bertenaga.

Meski tak jelas apa yang Jeffree nyanyikan—karena yang terdengar hanya desahan, teriakan penuh emosi, dan kata-kata f**k you—aksinya mampu merebut perhatian sekitar 1.000 penonton. Mereka hanyut dalam entakkan musik bising. Sebagian saling dorong di antara sesama atau berguling-guling di atas kepala ribuan penonton lain.

Di panggung utama, NOFX, band punk asal California (sekarang berbasis di San Franscisco) juga melakukan hal yang sama. Mereka mengajak sekitar 2.000 penonton bertekad melawan perang serta menciptakan perdamaian.

”Ayo angkat satu tanganmu dan berjanjilah untuk perdamaian,” ujar vokalis dan basis NOFX, Fat Mike. Penonton mengikuti seruan Mike dan ketika itulah musik mengentak.

Band asal AS itu belakangan memang getol mengecam kebijakan perang (mantan) Presiden AS George W Bush. NOFX pada tahun 2003, misalnya, merilis album The War on Errorism untuk mengejek keputusan Bush yang berperang ke Irak dengan alasan yang terbukti salah. Tahun itu juga mereka menggelar tur Rock Against Bush.

Selain NOFX, band ternama lainnya yang hadir di Warped Tour kali ini, antara lain, adalah Anti Flag, Bad Religion, A Day to Remember, dan A Rocket to The Moon.

Superman Is Dead

Di antara kepungan band punk ternama, ada Superman Is Dead (SID). Band punk asal Bali ini menjadi satu-satunya band Asia yang hadir di Warped Tour 2009. Di Post Gazette, SID tampil sekitar pukul 15.00 di Kevin Says Stage, bersamaan dengan jadwal manggung NOFX dan Anti Flag.

Bisa ditebak, penonton hampir tidak melirik band yang di Indonesia namanya sedang melambung lewat tembang ”Jika Kami Bersama”. Ketika SID mulai beraksi, hanya ada sekitar 10 penonton di depan panggung.

”Heeeeeyyy, we are from Bali, Indonesia,” teriak Eka Rock, pemain pemain bas SID, mencoba menarik perhatian penonton yang lalu lalang di tengah arena Warped Tour. Tanpa banyak basa-basi, Eka Rock, Bobby Kool (vokalis), dan Jerinx (drumer) langsung menggebrak dengan lagu ”Year of the Danger” yang liriknya berisi kemarahan atas teror bom di Bali.

Ketika menyanyikan lagu ini, Bobby terlihat amat emosional sebab beberapa lokasi yang terkena ledakan bom di Bali tidak lain adalah tempat dia nongkrong. Mungkin, dia akan lebih emosional lagi jika—waktu itu—dia tahu teror bom masih akan berlanjut di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7) pagi.

Lewat gebrakan pertama ini, SID berhasil menarik beberapa penonton. Mereka mulai bertanya, ”Ini band dari mana?” Pada lagu berikutnya, ”Goodbye Whiskey” dan ”Vodkabilly”, semakin banyak penonton yang tertarik. Ketika SID menyelesaikan penampilannya dengan ”Kuta Rock City”, penonton yang bertahan mencapai 40-an orang.

Hasil ini tidak buruk sebab band-band dari luar AS—termasuk The Blackout asal Inggris yang cukup punya nama—juga tidak mampu menyedot penonton AS dalam jumlah besar. SID pun masih bisa terhibur sebab seusai tampil ada dua anak muda yang mendatangi SID dan memuji penampilannya setinggi langit.

”You guys got more skill than Green Day,” katanya, kemudian meminta foto bersama dan membeli CD album SID.

Kedua anak muda asal Pittsburgh itu bernama Josh (18) dan Vinnie (17). Mereka mengaku baru pertama kali mendengar lagu dan menyaksikan penampilan SID. ”Saya langsung suka. Kalau band ini asal AS, saya kira mereka akan segera populer,” ujar Josh.

Eka Rock mengatakan, SID sudah berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian penonton. ”Lumayan banyak juga yang lihat. Kami realistis aja, di sini SID enggak dikenal. Bahkan, orang tidak tahu Bali dan Indonesia,” katanya.

Juru bicara

Apa yang disuarakan band punk yang tampil di Warped Tour 2009 rasanya masih tetap aktual dengan kondisi saat ini ketika dunia masih dalam cengkeraman hegemoni beberapa gelintir negara, ancaman perang masih nyata, dan jurang perbedaan kian menganga.

Untuk konteks Indonesia, apa yang disampaikan SID lewat lagu ”Years of the Danger”, seperti mewakili kemarahan bangsa Indonesia terhadap para teroris yang meledakkan bom dengan mengatasnamakan agama.

Sayangnya, pesan yang disampaikan band-band punk itu jadi terkesan basa-basi. Mengapa? Karena Warped Tour kali ini tidak memiliki pesan yang jelas. Satu-satunya pernyataan yang muncul adalah bahwa festival tersebut ramah lingkungan karena menggunakan energi matahari.

Pada akhirnya, festival ini menjadi sekadar perayaan dan hura-hura anak punk.

Rabu, 24 Juni 2009

Interview with Rolling Stone Indonesia (Original)


Sebenarnya kita bukan band Asia pertama yang tampil di Warped Tour. SID adalah band Asia kedua, tapi kita adalah band Asia pertama yang walaupun tidak merilis album di Amerika tapi tampil di Warped Tour.

1. Kalian menjadi band Asia pertama yang tampil di Vans Warped Tour. Apa komentar kalian, dan atraksi apa saja yang kalian siapkan untuk itu?

Sebenarnya kita bukan band Asia pertama yang tampil di Warped Tour. SID adalah band Asia kedua, tapi kita adalah band Asia pertama yang walaupun tidak merilis album di Amerika tapi tampil di Warped Tour. Sebelumnya [tahun 2003] ada band punkrock dari Beijing yang sempat tampil di Warped namun album mereka sebelumya dirilis oleh label Amerika dan mereka dibawa ke Warped oleh labelnya. Perasaan kita sejauh ini sangat excited dan ada sedikit perasaan tegang juga, this a big chapter for us and one of our biggest dream. Karena waktu kita tampil per show di Warped hanya 20 menit, kita akan menyiapkan repertoar tanpa ampun. Hajar sejak awal, tanpa jeda, dan pergi pada saat yang tepat. Dengan waktu yang singkat kita akan coba meninggalkan kesan yang tajam menusuk. Atraksi khusus sejauh ini belum ada yang kita siapkan,-selain memasang bendera Merah Putih di stage- mungkin kita akan memakai pakaian adat Bali sambil bawa keris? Haha...we'll see how it goes....

2. Di sana kalian akan menjalani tur. Hal apa yang paling menyenangkan dan menyebalkan dari sebuah tur?

Berkaca dari tour kita di Australia, yang paling menyenangkan adalah ketika kita berada diatas panggung dan melihat ekspresi para penonton yang sebelumnya seperti underestimate terhadap SID namun perlahan mulai menangkap energi yang kita lemparkan. Dan pada akhirnya semua ikut berpesta dengan SID ditemani stage dive dan mosh yang mereka ciptakan. That feeling is priceless. Selain itu mencicipi rasa bir yang berbeda-beda disetiap state and making new friends selalu menjadi hal yang menyenangkan. Biasanya banyal hal-hal adventurous dan unpredictable terjadi with our new friends. Haha. Yang paling menyebalkan mungkin pada saat kita lelah atau sakit disertai massive hangover. But mostly it's fun coz we're doing what we love...

3. Energi apa yang ingin ditonjolkan dari album Angels and the Outsiders?

Positivity, kerja keras dan semangat unity in diversity a.k.a Bhinneka Tunggal Ika.

4. Apa saja hal favorit kalian di album ini?

Selain cover nya yang kita anggap the best abum cover since The Clash's London Calling, kita menyukai the fact that SID tidak harus selalu bermain up-tempo untuk tetap menyalakan api pemberontakan. Dengan bermain mid-tempo pesan kita tetap tersampaikan dengan utuh. Album ini bisa disebut sebagai a mind opener untuk generasi yang menganggap punkrock harus selalu bermain cepat dan penuh distorsi. Ibaratnya, kita tidak harus memelihara anjing pitbull untuk merasa menjadi seorang lelaki. There's so many other dangerous things than a pitbull. This album is a statement that punkrock is already in our blood so we don't need to be pretentious and showing it with too much speed and distortion. We know what we're made of.

5. Kalau ada orang yang baru pertama kali mendengar SID, apa wejangan kalian terhadapnya, dan sebaiknya dia memulai dengan mendengarkan album yang mana?

Start it with Black Market Love, karena di album ini SID mulai menemukan bentuk pemikiran yang nantinya menjadi fondasi musik dan attitude kita sampai sejauh ini. Perpaduan esensi amarah punkrock, kebrandalan rockabilly, outlaw love songs dan being the real minority in Indonesia. That's SID dan Black Market Love merangkumnya dengan seimbang. Our suggestion to our first listener will be "Go grab a beer and kiss the mainstream world goodbye!"

6. Kalian tidak takut bereksperimen dan memasukkan hal-hal baru. Bagi kalian, seberapa penting menjaga keterbukaan dalam bermusik?

Honestly, musically nothing is new in this world. Everything has been done. That's why hal-hal baru yang kita masukkan juga selalu kita jaga agar tidak menjadi dominan dan benang merah SID tetap terlihat. Kami selalu berexperimen tapi tidak sampai ke level 'too much'. We're not The Mars Volta, we're a punkrock band so esensi yang kita pegang teguh adalah etika 'in your face'. Straightforward, tidak banyak basa basi atau bermain-main dengan dimensi. Sometime less is more.

7. Berdiri selama lebih dari 10 tahun dengan personal yang sama sudah merupakan suatu prestasi membanggakan untuk sebuah band. Apakah ini berlaku juga untuk kalian? Apa tantangan yang paling besar dalam mempertahankan SID selama ini?

Kita merasa it's just the beginning of SID. Kita baru saja terlahir kembali dengan album Angels and The Outsiders dan jalan kita masih sangat panjang. 14 tahun mungkin bukan waktu yang singkat namun kami masih terus belajar. Belajar bagaimana menundukkan industri musik Indonesia, belajar bagaimana menerjemahkan isi kepala dan hati kita dengan lebih utuh tanpa bias agar pendengar juga bisa menerjemahkannya dengan benar. Dalam tubuh SID sendiri saat ini kita tidak menemukan masalah yang signifikan untuk menjaga keutuhan band. Tantangan terbesar justru datangnya dari industri musik Indonesia dimana kita kadang dihadapkan dengan sebuah tembok besar bernama diskriminasi. Hal-hal seperti itu yang kadang membat kita drop, namun kadang juga memberi motivasi untuk lebih keras lagi menampar wajah industri musik Indonesia, dengan prestasi dan hal-hal positif tentunya.

8. Musik Indonesia saat ini dihuni band-band yang seragam. Apakah kalian melihat itu sebagai tantangan, sesuatu yang harus hilang, atau itu justru tidak masuk dalam perhatian kalian?

Bagi SID itu sebuah tantangan besar yang harus ditaklukkan. Kita ini bagaikan semut yang melawan gajah, namun semutnya percaya diri karena punya karma dan strategi yang bagus. Situasi industri musik Indonesia inilah yang membuat kita tertantang untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa musisi Indonesia sebenarnya tidak seragam. Dan sebenarnya terlihat seragam karena band-band yang muncul di TV/media adalah band-band yang itu itu saja. Hasil survei statistik amatir versi SID: di Indonesia jumlah band yang memainkan musik-musik cutting edge lebih banyak daripada band-band komersial. Lalu kenapa band komersial yang selalu dominan di media-media? Itulah yang sedang kita pelajari formula nya, kita mencoba dalami trik-trik bisnis nya tanpa mengorbankan idealisme dan sikap hidup. Kita percaya -apalagi dengan fanbase Outsiders yang bertambah kuat setiap detik- jika serius kita pasti bisa menaklukkan sang gajah industri.

9. Kalian berbicara tentang hal-hal yang 'rumit' melalui musik, seperti menentang perang, kesetaraan, sampai Bhinneka Tunggal Ika. Apakah pernah merasakan kesulitan dalam melakukannya? Jika ya, apa saja dan bagaimana mengatasinya?

Hal-hal yang kita suarakan sebenarnya bukanlah hal-hal yang rumit. It's all real. Itu semua terjadi setiap saat disekitar kita, secara langsung maupun tidak. Cuma masalahnya sekarang apakah kita mau membicarakannya? Kita percaya sebuah issue akan bisa menjadi sedikit teratasi dan mulai menemukan solusi disaat kita mulai terbiasa membicarakannya. Contohnya issue HIV dan Global Warming, masyarakat kita sekarang sudah jauh lebih terbuka dan educated tentang issue-issue tersebut. Mungkin suatu saat, hal yang sama akan terjadi dalam issue kesetaraan, SARA yang -mudah-mudahan- nantinya bisa memberi impact positif dalam kehidupan kita di Indonesia yang multi-kultural. Kami sadar, kami ini hanya sebuah band dan pesan-pesan kita tidak akan bisa merubah dunia seperti yang kita bayangkan. Kami tahu banyak musisi lain melihat apa yang kita lakukan ini tidak efektif. Buat apa musisi bicara tentang kesetaraan, perdamaian? Useless! Sudah sana cari duit saja, main aman, nyanyi cinta, kalian tidak akan bisa merubah Indonesia. And you know what? We don't give a flying fuck about what you think of us. We're rebels and we like to take some risk. Kita tidak mengklaim diri kita lebih baik daripada orang lain, tapi SID mencintai Indonesia dan ingin melakukan sesuatu yang positif untuk pemikiran generasi muda bangsa ini. Bagi SID, rasa ketidak pedulian tidak akan membawa kita kemana-mana. Menjadi peduli adalah tindakan yang bernyali. Karena kita punya musik, maka musik lah yang kita pakai sebagai senjata. Kita tidak pernah menemukan kesulitan besar karena kami nyaman dengan apa yang kami lakukan. Kami nyaman berada di posisi ini: sebuah band minoritas dengan fanbase kuat yang tidak takut menjadi dirinya dan selalu berpesta keras untuk Bhinneka Tunggal Ika. Does that sounds familiar di Indonesia? No. Hell no.

10. Apakah kalian merasa harus selalu memasukkan pesan dalam musik kalian?

Tidak juga. Ada beberapa lagu SID yang bercerita tentang hal-hal ringan selain hal 'rumit' diatas. Namun bagi kita semua lagu pasti ada pesannya. Entah itu krusial atau tidak, tergantung dari perspektif dan background pendengarnya.

11. Apa hal yang paling ingin kalian lakukan, tapi belum kesampaian?

Membuat video klip 'Memories of Rose' yang di sutradarai oleh Garin Nugroho dan memakai Christine Hakim sebagai model-nya.

12. Band/musisi apa yang sedang gemar didengar?

Bobby Kool: The Living End, NOFX, AFI, AC/DC, Dave Matthews Band, No Use For A Name.
Eka Rock: The Living End, AC/DC, AFI, Helltrain, Paul Anka, No Use For A Name.
Jrx: The Gaslight Anthem, Bruce Springsteen, Everlast, Social Distortion, Tiger Army.

13. Setelah berdiri selama ini, pencapaian apa yang paling membuat kalian bangga?

Melewati 14 tahun dengan punkrock dan personel yang sama membuat kami merasa kuat. Namun melihat peta kekuatan Outsiders di Indonesia yang berkembang pesat dan makin kuat membuat kami bangga dan percaya diri. Mereka adalah refleksi SID terhadap sikap masyarakat mainstream. Walaupun kami minoritas, kami makin kuat dan tidak pernah sendiri...

14. SID adalah ikon musik Bali. Setujukah Anda dengan pernyataan itu?

Mungkin lebih tepatnya sebagai 'salah satu' ikon musik Bali. Dan lebih tepat lagi kalau SID adalah Ikon Berandalan Bali. Hahaha.

15. Kalian ingin dikenang sebagai apa?

Band yang membuat orang tua dan pacar anda resah.

Sabtu, 06 Juni 2009

Rabu, 20 Mei 2009

Press Release SID USA Tour


SUPERMAN IS DEAD ROCK-A-BALI AMERICAN TOUR 2009: Untuk Musik & Attitude Yang Selama Ini Terabaikan.
Dengan harapan setinggi matahari dan kerja keras tiada henti, SID akhirnya berhasil mewujudkan salah satu mimpi agung nya: an American tour. 35 hari, belasan kota, 17 konser termasuk didalamnya 11 gig di Vans Warped Tour, festival musik cutting-edge tahunan terbesar di Amerika. Perlu ditambahkan, SID adalah band Asia kedua yang berhasil masuk Vans Warped Tour.

Tersirat harapan besar tour ini bisa menjadi awal injak balik yang positif untuk industri musik Indonesia. Dimana nantinya mata hati industri musik kita diharapkan bisa lebih terbuka dan bersikap lebih fair menyikapi betapa kayanya negeri ini akan seni musik alternatif dan potensi baru yang siap bersaing bukan cuma di dalam negeri, tapi juga diluar negeri.

Bercerita tentang bagaimana proses SID bisa masuk Vans Warped Tour, ini semua tidak terlepas dari peran luck and integrity. Luck karena timing nya tepat. Tepatnya akhir 2008 kita mendapat undangan dari Mastra Production [E.O dari Philadelphia] untuk mengadakan konser di beberapa kota di USA selama bulan Juni 2009 dan diberi label ‘From Bali With Rock’ . Sesuai judulnya, dalam tour tersebut kita akan mempromosikan Bali dan Indonesia di depan publik Amerika.

Lalu, kita check jadwal Vans Warped Tour, dan ternyata timing berakhirnya tour From Bali With Rock bertepatan dengan dimulainya jadwal Vans Warped Tour. Setelah mengirimkan beberapa email, akhirnya manajer NOFX Kent Jamieson -yang pernah menyaksikan SID sewaktu menjadi opening NOFX di Bali- memberi respon positif. Kent Jamieson lalu merekomendasikan SID ke founder Vans Warped Tour Mr. Kevin Lyman. Singkat kata, rekomendasi disetujui dan SID dikontrak untuk bermain di Kevin Says Stage [second stage di Vans Warped Tour] di 11 kota yang mana SID mendapat treatment yang sama dengan band-band yang lain peserta Vans Warped Tour.

Lalu faktor integrity. Karena kita memang benar-benar bekerja keras dan selalu berpikir positif. Bermain di Vans Warped Tour dan tour keliling Amerika merupakan salah satu mimpi agung dan target SID sejak lama. Dan kita selalu mengerahkan 110% dari darah, keringat dan airmata untuk mencapai goal ini. Itulah integritas SID.

Dan kita yakin, semua ini hanyalah awal dari sebuah kebangkitan yang lebih besar. Kemenangan untuk musik dan attitude yang selama ini terabaikan.

Dari Bali kita akan buktikan kepada dunia jika Indonesia adalah negara adi budaya yang menjunjung tinggi pluralisme, toleransi dan persahabatan.

Cheers!
Superman Is Dead

Press Release : ANGELS AND THE OUTSIDERS

Rasanya sudah 100 tahun lamanya tidak menginjakkan kaki di studio rekaman. And before we jump to the main topic, one thing we must admit, the beginning of this year 2008 and half of 2007 was disaster for Superman Is Dead! Semua terasa berat.

Diawali dengan penghianatan besar, konflik fatal dalam manajemen, kebangkrutan dan ditinggalkan oleh yang tercinta. Semua terjadi secara beruntun bak novel tragedi dari Rusia. Dingin dan tanpa ampun. Dan kita tidak bertambah muda. Dikejar usia, jadilah beban hidup terasa semakin berat dan menghantui setiap inchi langkah yang kita ambil. Saat itu SID seperti kehilangan nyawa dan akal sehat.

Kebingungan dan hampir menyerah.

Tapi untung saja tidak. "Apapun yang tidak membunuhmu akan menjadikanmu lebih kuat". Don't ever fuck with that old saying coz we are the living proof. Setelah hampir setahun hancur lebur dihajar depresi dan segenap negativitas-nya, perlahan kita seperti kembali menemukan jati diri kita, siapa kita dan apa yang kita inginkan. Ditengah rasa sakit kita banyak belajar tentang hidup. Dan satu hal signifikan, malaikat akan selalu ada disana selama kita masih percaya. Energi. Api kebencian, cinta dan airmata. Itulah malaikat. Persahabatan, kesetiaan dan harapan. Itulah malaikat.

Dan kita pun terselamatkan.

Perlahan kita mencoba berdiri lagi, menulis lagu, menorehkan lirik bertintakan air mata dan alkohol untuk menemukan kembali alasan kenapa kita berada di band ini. Dan jangan pernah lupakan rasa terima kasih dari hati kami yang paling dalam untuk semua fans, sahabat dan keluarga yang tiada henti siang malam gelap terang memberi api semangat nan tulus kepada kami. We're so so lucky to have you!

Berbekal harapan setinggi matahari, akhirnya kami benar-benar bisa berdiri dan semua masalah mulai menemukan jalan keluarnya.

Masih memakai sound engineer Yoni dan dengan sound yang jauh lebih tebal dan matang, album ke 7 ini dibuka dengan Kuat Kita Bersinar dimana kita memadukan suara tulus anak-anak panti asuhan diiringi denting indah piano dari musisi jazz tangguh Erik Sondy. Kemudian Jika Kami Bersama, sebuah masterpiece dimana SID untuk pertama kalinya berkolaborasi penuh dengan Jogjakarta kings Shaggy Dog. This track is guaranteed gonna bring your ass right to the party!

Kemudian rasa salut dan hormat terdalam untuk sekumpulan anak muda yang tak mengenal rasa takut dan selalu ada untuk SID kita tumpahkan dalam We Are The Outsiders.

Kesedihan dan konten rasa kehilangan kita balut dengan gagah dalam Nights Of The Lonely [featuring Sally Jo Saharadja on violin], Menuju Temaram dan Memories Of Rose yang maha panas dimana perpaduan gitar flamenco Hendra Telephone dan permainan trumpet dahsyat Rio Saharadja akan membuat anda seolah berada di gurun Mexico dengan tequila kadaluwarsa ditangan kiri dan pistol di tangan kanan.

Lalu di track Pulangtema kerinduan akan 'rumah' dituangkan dengan semangat rockabilly nan membara dan tiba tiba terselip nada gulana suling bambu Bali dari Gembul drummer Navicula. Aneh? You'll be the judge. Tak usah terlalu lama terjebak dalam kesedihan karena kita akan menggebrak pesta pesta liar jalanan dengan Poppies Dog Anthem [based on a true fuckin story], Punkrock Lowrider dan Twice In Paradise.

Luka Indonesia yang memuntahkan rasa cinta kami pada negara dan kolaborasi dengan alat musik tradisional Bali terjadi disini, it's totally Rock-A-Bali! Tema persatuan dan harapan untuk dunia yang lebih baik juga ada di U.T.W (Unfuck The World) dan Nuansa kecintaan terhadap pada anak-anak kita pertahankan dalam lirik-lirik jujur Saint Of My Life [feat.Alit Anima on organ], Close To Fly Away, dan The Days Of The Father. Punkrock sayang keluarga. Haha.

Itulah 15 track yang berhasil kita rekam dalam masa masa terberat dalam karir kita, namun matahari sudah kembali bersinar dan hingga detik ini kami merasa seperti ribuan macan lapar yang siap menerjang apapun dan siapapun yang berdiri dijalan kami.

Released by
SONY Music Entertainment Indonesia, 16 Februari 2009

For further info, please contact:
Lia Pasaribu
outSIDer Inc./Superman Is Dead Management
081 70 6666 88
www.supermanisdead.net
www.myspace.com/supermanisdead

Selasa, 05 Mei 2009

About Superman Is Dead

SID, punk rock pioneers of Bali, were born and bred in Kuta Rock City. The band is three chord attitude-heavy young men, by name : Bobby Kool (lead vocal, guitar, a dog lover and a graphic designer) , Eka Rock (low ridin' family man, beer drinker, laid back bass and backing vocal and a warm smilin' Rock 'N Roll bandman, IT warior) , Jrx (low ridin' beer drinking Rock 'N Roll prince charming, drummer and a hairwax junkie, Bar owner)

The name 'Superman is Dead' started its' evolution from Stone Temple Pilot's "Superman Silvergun". The name moved on to "Superman is Dead" cause they like the idea that there's no such thing as a perfect person out there.
SID actually stumbled together in '95, drawn by their common love of Green Day and NOFX. Their influences soon extended to the punk 'n roll genre a la Supersuckers, Living End and Social Distortion, and here they stay. They say what they wanna say, how they wanna say it. In your face, to say it precisely.

SID public image, self described, is "Punk Rock a Bali" (think raw energy of NOFX vs Social Distortion supersonically fueled with beer-soaked Balinese Rockabilly attitude).
History ? SID produced their first three albums independently (the boys worked years of crappy night jobs), with fabulous, small scale indie labels 1997 "Case 15", 1999 "Superman is Dead", 2002 "Bad Bad Bad"(mini album, 6 tracks).

In March 2003, SID finally signed with Sony-BMG Indonesia after extended negotiations regarding their right to sing the majority of their tracks in English and have full artistic rights over their 'image'!! With that decision they single handedly became the first band from Bali to be invited to sign with a major recording label in Indonesia, the first band in their nation (to my knowledge) to be recording majority of songs in English and the first punk band in Indonesia to get the national exposure and promotion that working with a major label in a third world country provides. And so the history of Indonesian Punk Rock begins!

And as for the question that everyone wants to know, the infamous bomb in Bali happened about 75 M from their home, hangout center, punk rock boutique, bar and rehearsal studio that is also Jrx' house, in the heart of Kuta.
After panel beating back the rolling doors of the studio and shifting a little debris, rehearsals continued as usual. Yeah, they saw a lot, it sucked big time, but its' not gonna stop 'em!

And where are they now? At the end of 2002, one of the more respectable music mags here cited SID as "The Next Big Thing" for 2003. With the release of their fourth album "Kuta Rock City" followed by major air play nationally and in some countries overseas, coupled with the instant popularity of their newest film clip.

SID suddenly find themselves touring continuously throughout Indonesia. Last week they were in four major Indonesian cities, on three islands, in 7 days! Sometimes playing for free at underground scene clubs, sometimes at street skate parties or alternative band festivals, at lots of universities and even occasionally at "classy" venues who would have probably denied them entrance years ago!
Which means more beers for all.

In 2003 SID even got a mention in Time Asia.
They also won a few music awards “MTV Awards for The Best New Artist 2003”, “AMI Awards for The Best New Artist 2003” and nominated again in “AMI Awards 2006 for The Best Rock Album”.

October 2007, they did an amazing Australian tour, 8 cities, 16 gigs, 33 days with their strong D.I.Y work ethic.
SID had share stages with international bands such as International Noise Conspiracy, NOFX, MXPX and Hoobastank.
They remain proud, boys from the streets of Kuta with a love of punk rock, beers and a good time. Ready for whatever comes next, excited about the next gig.